Senin, 26 September 2011

Rating Universitas Jember Bintang Dua Asia

 
Selasa, 27 September 2011 08:44:21 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan

Jember (beritajatim.com) - Ibarat hotel, Universitas Jember kini berkelas bintang dua di Asia. Penilaian ini diberikan oleh sistim rating QS Stars, sebuah lembaga yang berkonsentrasi untuk menilai sistim pendidikan di dunia dan berbasis di London, Inggris.

Di Indonesia, ada 17 institusi perguruan tinggi yang telah dirating dari 50 institusi yang mendaftarkan diri. Rating ini didasarkan pada performa perguruan tinggi atas sejumlah kriteria inti.

Dengan mendapat rating dua bintang, maka Unej bisa dianggap sebagai universitas yang aktif dalam bidang riset dan telah memiliki reputasi yang mapan di tingkat domestik. Institusi tersebut dianggap sebagai bagian kunci dari komunitas lokal dan siap untuk mengambil kesempatan masuk ke lingkup internasional.

"Ini semua berawal tahun 2008 saat Unej dimasukkan sebagai universitas yang menjanjikan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional," kata Pembantu Rektor I Unej, Agus Subekti.

Unej mendapat hibah untuk mendaftarkan diri sebagai perguruan tinggi yang dinilai dengan model 'benchmarking'. "Dalam model benchmarking ini, perguruan tinggi tidak di-rangking, tapi diberi status seperti hotel. Universitas menempati bintang tertentu asalkan memiliki standar kelayakan yang sama," kata Agus.

Hasilnya cukup memuaskan. Selama dua tahun berturut-turut, 2010 dan 2011, Unej mendapat rating dua bintang dari lima bintang yang ada. "Yang jelas kita bukan universitas kelas melati," kata Agus, tersenyum. Di Asia, Nanyang Technological University, Singapura, adalah perguruan tinggi pertama di Asia yang mendapat predikat bintang lima.

Di Indonesia, Unej kalah dari Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya. ITS mendapat rating tiga bintang. Posisi dua bintang yang setara dengan Unej diperoleh oleh Universitas Diponegoro Semarang, Institut Pertanian Bogor, Universitas Airlangga Surabaya, dan Universitas Brawijaya Malang.

Selain itu, perguruan tinggi lain yang mendapat rating dua bintang adalah Universitas Parahyangan Bandung, Universitas Pendidikan Indonesia Bandung, Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Islam Indonesia Jogjakarta, Universitas Gunadarma Depok, Binus, dan universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta.

Apa keunggulan Unej? "Beberapa fasilitas kampus Unej mendapat nilai tinggi, seperti asrama, fasilitas olahraga, laboratorium, sarana pembelajaran, klinik, dan sarana kesehatan," kata Agus.

Publikasi, riset, jumlah mahasiswa asing, rasio dosen dan mahasiswa, serta kerjasama dengan pihak eksternal yang dilakukan Unej, juga mendapat penilaian positif dari tim penilai QS. "Ada beberapa hal yang kami belum dapat poin, seperti aplikasi penelitian kami di dunia industri," kata Agus.

Agus optimisis Unej akan segera menjadi bintang tiga. "Skor kita mendekati 300. Tinggal sedikit lagi," kata Agus. Unej senang dengan model penilaian benchmarking ini, karena tidak hanya menghitung kuantitas sebagaimana penilaian sistim rangking, namun kualitas. [wir]

Sabtu, 17 September 2011

Aku Harus Bagaimaa?


Sebut saja namaQ R***an Afif,munkin Q tipe Cowok yang memusingkan ”kata PacarQ”.buat Q itu semuanya sangat benar…..entah knpa Q slalu tidak puas terhadap PacarQ padahal dia adalah seorang yang rela melakukn apa saja buat Q.sampek-sampek setiap Q ingin itu pasti dia turuti , pengen ini pasti dia lakukan,tapi kadang kala q merasa bahagia jika dia melakukan itu semua kadang kala pula aku merasa bosan  dan males dengan apa yang dia lakukan ma aku.
Pernah suatu Hari dia jalan bersama aku, tepatnya waktu liburan sekolah…..
aku kan ingin dia selalu setiap saat ada disampingku,sampai-sampai aku tak ingin jau darinya, tapi dia selalu bertentangan dengan apa yang aku harapkan.sebenarnya aku berharap dan sangat berharap.
Tapi dia selalu berkata Aku tak bisa melakukan semua itu jika tahun ini…..(apa mungkin kerena  Jarak yang begitu jauh memisahkn kita).sering aku ber Tanya pada hati kecilku apakah aku yang Egois atau-kah dia yang Egois.mengapa Aku seperti ini, mengapa aku sangat sayang banget ma dia.Apa semua karna dia selalu memberikn apa yang aku inginkan atau karena nyokap dia yang sanyang bgtz ma Aku sehigga aku tak punya keberanian untu berusaha menyakiti dia,tapi dia selalu berkata padaQ jika Q selalu buat sediah dia padahal aku melakukan itu semua demi dia.
Pusing rasanya memikirkan itu semua sehingga aku selalu berfikir mengapa dengan Aku dan Harus bagaimana Aku harus mengadapi semua ini…..ingin ninggalin dia tapi Aku tak kuasa dan kasian ma nyokanya yang begitu sayang ma Aku dan Aku mempertahankan hubungan dengan-nya membuat aku selalu pusing dan pusing memikirkan strategi jitu[kayak pelatih Bola aja] agar dia gag sedih dan q merasa nyanyaman.

Kamis, 15 September 2011

Menemukan Cinta Yang Hilang

Detik waktu terus berlalu mengiringi hari demi hari, pekan demi pekan, bulan demi bulan, tahun demi tahun, dan windu demi windu langkah kakiku dalam menapaki kehidupan ini. Kehidupan yang indah karunia Sang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Sebuah perjalanan panjang anak manusia yang hidup mengikuti takdirnya. Hidup mengikuti kehendak Sang Pencipta Alam. Hidup dengan kasih sayang orang tua, keluarga tercinta dan sahabat-sahabat sejatinya.

Tak terelakkan dalam kehidupan ini kita harus berbaku hantam dengan kesedihan, harus bersahabat dengan kesulitan dan kerasnya kehidupan, namun tidak terlupakan setumpuk kesenangan dan kebahagiaan juga selalu menghampiri hari-hari kita. Suka – duka, pahit – manis, susah – senang, sedih – gembira, merana – bahagia adalah pasangan keadaan yang mau tidak mau pasti kita lewati walaupun kadang diri ini tidak ingin bila sesuatu yang menyedihkan dan menyakitkan harus menjadi sebuah realitas yang harus kita hadapi.

Tak terelakkan dalam kehidupan ini kita harus berbaku hantam dengan kesedihan, harus bersahabat dengan kesulitan dan kerasnya kehidupan, namun tidak terlupakan setumpuk kesenangan dan kebahagiaan juga selalu menghampiri hari-hari kita. Suka – duka, pahit – manis, susah – senang, sedih – gembira, merana – bahagia adalah pasangan keadaan yang mau tidak mau pasti kita lewati walaupun kadang diri ini tidak ingin bila sesuatu yang menyedihkan dan menyakitkan harus menjadi sebuah realitas yang harus kita hadapi.

Adalah kita sebagai manusia biasa yang selalu merindukan cinta dan kasih sayang. Sejak terlahir ke dunia ini kita sudah merasakan kedua kebutuhan psikis tersebut, sehingga kita bisa bertumbuh hingga menjadi manusia dewasa seperti sekarang ini. Meskipun memang tidak bisa dipungkiri, ada juga saudara-saudara kita yang jauh dari cinta dan kasih sayang karena harus menghadapi kerasnya hidup seorang diri sedari kecil. Seperti mereka yang hidup di jalan, terminal, kolong jembatan dan tidak tahu kepada siapa mereka memanggil “ayah” atau “ibu”.

Sudah menjadi fitrah kita ingin dicinta dan mencinta, baik itu keluarga, sahabat, masyarakat dan orang-orang terdekat. Cinta dan keberadaan mereka di sekitar kita yang telah membuat hidup kita punya makna, karena jika kita hidup seorang diri, tak akan berarti segala harta dan perhiasan dunia ini bagi kita. Selalu ada orang-orang terkasih yang membuat hari-hari kita terasa lebih hidup dan pencapaian prestasi pribadi kita punya arti.

Setelah dewasa maka kita pun mulai mengenal lawan jenis dengan segudang perasaan yang khas, yang tidak pernah kita rasakan ketika kecil dulu… melebihi dari sekedar ketertarikan, melebihi dari sekedar ingin mengenal dan ingin selalu dekat. Itulah perasaan cinta yang berbalut asmara. Dan mereka yang terserang virus cinta kepada sang pujaan hati biasanya disebut sedang “kasmaran”. Kasmaran: sejauh mana kau kejar cinta? Selalu menjadi episode kehidupan yang menarik untuk disimak.

Soulmate in Love

Sudah menjadi fitrah (built in) kita membutuhkan pasangan hidup. Jika kita laki-laki maka pasangan kita tentu wanita, begitu juga sebaliknya. Hal ini sudah tersurat dalam Al Quran, yakni tatkala Allah SWT berfirman dalam surat Faathir ayat 11 yang artinya :

“Dan Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian dari air mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan). Dan tidak ada seorang perempuanpun mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya. Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah.”

Jadi, jika yang berpasangan menjadi partner hidup itu adalah laki-laki dengan laki-laki (homoseksual, atau kawan saya sering menyebutnya dengan istilah hombrenk) atau pasangan wanita dengan wanita (lesbian), ini bertentangan dengan ketentuan yang telah Allah SWT tetapkan. Kaum ini pernah hidup di jaman Nabi Luth dan mereka akhirnya mendapat azab Allah yang amat pedih sebagaimana diabadikan dalam Al Quran Surat Asy Syu’araa ayat 173 yang artinya, “Dan Kami hujani mereka dengan hujan (batu), maka amat jeleklah hujan yang menimpa orang-orang yang telah diberi peringatan itu.”

Maka kita pun menjadi manusia normal yang tertarik dan memiliki cinta pada lawan jenis. Kita pun mulai melakukan perjalanan mencari cinta sejak muda belia, bahkan ada filmnya yaitu “30 Hari Mencari Cinta”. Karena 30 hari sama dengan satu bulan, ternyata banyak yang belum menemukan dambaan hatinya, menemukan cinta sejatinya: soulmate in love, belahan jiwa! Bahkan sudah bertahun-tahun juga belum bertemu soulmate mereka. Pernah seorang sahabat yang meminta bantuan agar dicarikan pasangan untuk saudaranya, seorang wanita karier dengan umur kepala empat. Langsung pikiran saya menuju seorang kawan yang berumur 40-an dan masih melajang, namun ternyata beberapa minggu kemudian kawan yang dimaksud menikah dengan jodohnya, seorang gadis muda usia di bawah 25 tahun. Jodoh memang penuh misteri…, siapa sangka?

Dalam proses pencarian cinta inilah banyak sekali kisah yang terjadi. Ada yang terjerembab ke lembah dosa, berbuat nista dengan menodai kesucian cinta: melanggar batas syari’at yang ditetapkan-Nya. Ada yang broken heart dan dan mengakhiri hidup dengan mengenaskan. Ada yang dalam masa berpacaran bergonta-ganti pasangan (bila ini jadi hobi biasanya disebut playboy atau playgirl). Ada yang merajut asmara bertahun-tahun namun kemudian putus di tengah jalan, akhirnya broken heart juga; untung tidak bunuh diri, hanya merana saja. Ada yang cintanya bertepuk sebelah tangan, namun tetap tabah dan terus mencari. Ada juga yang beruntung: sekali langsung jadi dan untuk selamanya.

Yang syar’i adalah mereka yang pacarannya sesudah nikah—meski terbatas jumlahnya. Ini adalah jalan yang ditempuh mereka yang berpegang teguh pada hukum yang Allah tetapkan. Mungkin ini sulit dijumpai di kalangan remaja di mana pergaulan bebas semakin merajalela, namun bukan berarti tidak ada sama sekali. Ini hanya soal prinsip/jalan hidup atau way of life yang dianut masing-masing personal.

Pencarian Cinta Sejati

Dalam kenyataannya, hampir semua kawula muda melakukan pencarian cinta. Malangnya kebanyakan mereka hanya mencari cinta yang bersifat horizontal, yakni cinta untuk lawan jenis. Sehingga banyak di antara mereka yang hanya menemukan kepedihan, kepahitan dan sakit hati bertubi-tubi. Hal ini disebabkan mereka tidak memiliki pondasi yang kuat dalam hal cinta-mencintai. Mereka hanya mencintai apa yang terlihat; mencintai si dia yang cantik, si dia yang tampan, yang telah mencuri hatinya, yang telah bertahta di singgasana cintanya. Dan ketika apa yang mereka cinta tidak mereka dapatkan, yang terjadi adalah putus asa, patah hati, merana, sakit, sedih, pilu, bahkan ada yang dengan tragis mengakhiri hidup mereka sendiri hanya karena urusan cinta; padahal hanya cinta kepada sesuatu yang fana: manusia. Mereka lupa kepada Sang Pemilik Cinta, Allah Azza wa Jalla.

Tak jarang dari kita yang tidak tanggung-tanggung dalam menempuh jalan pencarian cinta. Dia tidak hanya mencari cinta sesama manusia, tetapi juga mencari hakikat cinta yang sesungguhnya. Mencoba menguak misteri eksistensi dirinya dan berusaha menemukan cinta yang sejati. Cinta sejati ini adalah cinta yang kita tidak akan pernah kecewa jika kita memilikinya. Cinta yang tidak akan bertepuk sebelah tangan. Cinta yang akan membawa kepada kebahagiaan hakiki.

Ketika kita mencintai sesama makhluk dengan sepenuh cinta, tidak ada jaminan cinta kita akan bahagia karena cinta sesama manusia itu tidak kekal. Mungkin ia mati, pindah ke lain hati, atau menduakan cinta kita. Dan itu bisa terjadi secepat kita mengedipkan mata. Bisa dibayangkan, seseorang yang kita cintai dengan sepenuh hati hingga disebut cinta mati, tiba-tiba si dia bersama orang lain dengan penuh kemesraan tanpa memedulikan keberadaan kita; bahagiakah cinta kita? Tentu tidak! Apa cinta kita telah hilang? Tidak hilang…, hanya salah sasaran.

Coba bayangkan, sebelum kita mancintai yang lain-lain, kita memiliki cinta kepada cinta yang tidak akan pernah mengecewakan kita. Cinta di mana jika kita mendekat sejengkal, Dia akan mendekat sehasta; jika kita mendekat sehasta maka Dia akan mendekat sedepa; jika kita mendekat padanya sambil berjalan maka Dia akan menyongsong kita sambil berlari. Dan cintanya itu kekal abadi, tidak berubah karena perubahan fisik maupun keadaan ekonomi kita. Dia hanya memperhatikan satu hal dari kita; seberapa besar kesungguhan cinta kita.

Beda dengan mencintai manusia, harta, pangkat atau jabatan. Jika kita mencintai ketiga hal tersebut maka yang sering terjadi kita diperbudak oleh perasaan sendiri, takut ditinggalkan, takut kehilangan, dan rasa takut lainnya. Namun, jika kita bisa mencintai yang satu ini dengan sepenuh hati maka hidup kita akan merasakan ketenteraman. Dia tidak lain adalah Allah SWT, Tuhan Semesta Alam. Ketika kita berdzikir (mengingat) Dia maka bukan kegalauan yang mendera, melainkan sebuah ketenteraman batin yang menyejukkan.

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar Ra’d : 11)

Mahabbah (cinta) kepada Allah adalah cinta yang paling indah, namun sekaligus yang paling sulit, karena kita sebagai manusia biasa terkadang lebih mencintai sesuatu yang bisa dilihat dan diraba dengan panca indera. Bahkan seringnya kita ingat kepada Allah hanya ketika sedang ditimpa musibah saja atau ketika sedang merana meratapi kesendirian. Di saat-saat seperti itu, hati kita cenderung untuk kembali pada-Nya karena ternyata diri kita merindukan cinta dan kekuatan dari Dzat yang maha segala-galanya.

Kita tidak boleh ingat Allah hanya di saat susah saja. Kita juga tidak pantas menyatakan cinta pada-Nya hanya ketika kita sedang menyendiri dalam penantian cinta yang melelahkan. Kita harus menjadikan cinta kita kepada Allah SWT sebagai cinta yang teragung; cinta yang terdahsyat di setiap hembusan nafas kita. Kita memang bukan malaikat, sehingga kita tentu pernah atau sering berbuat salah dan dosa. Namun, kita tidak boleh berputus asa dari rahmat-Nya karena selalu ada kesempatan bagi kita untuk memperbaiki diri selama jantung kita masih berdetak dan darah kita masig mengalir menelusuri pembuluh darah.

Cinta yang tidak akan kecewa adalah cinta kepada Sang Pemilik Cinta, sebagaimana Bimbo mendendangkan lagunya dengan sangat indah, “Aku jauh…, engkau jauh. Aku dekat…, engkau dekat. Hati adalah cermin, tempat pahala dan dosa bertarung…”

Tidak Hanya Sekedar Cinta

Apakah mencintai Sang Khaliq sedemikian mudahnya, seperti ketika kita menyatakan cinta pada orang yang kita kasihi? Ternyata tidak semudah itu. Untuk membuktikan cinta kita kepada Sang Khaliq, Allah SWT, kita harus menjadi hamba yang bertaqwa; yang menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala laranngan-Nya sebagaimana yang dicontohkan Nabi dan Rasul-nya, Muhammad SAW.

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali Imran : 31)

Untuk itu, kita harus meletakkan prioritas cinta kita yang selanjutnya kepada Rasulullah, yang telah membebaskan ummat ini dari jaman jahiliyah yang gelap gulita sehingga sekarang kita bisa hidup dengan berlimpah nikmat, terutama nikmat iman dan Islam. Meneladani Rasulullah adalah jalan yang harus kita tempuh jika kita ingin mendapat cintanya Allah atau jika kita benar-benar mencintai Allah. Jadi, tidak sekedar ucapan cinta belaka.

Sayangnya di jaman modern seperti sekarang ini, kita sering salah kaprah. Kita meniru dan mengidolakan seseorang yang bukan pada tempatnya. Bukannya mengidolakan Nabi Muhammad, namun justru mengidolakan tokoh fiktif seperti Spiderman, Superman, Batman, X-men, dan lain-lain. Ada juga yang mengidolakan artis, penyanyi, bintang film dan lain-lain yang mana mereka tidak membawa perbaikan terhadap akhlak dan kecerdasan spiritual seseorang. Sehingga bukannya pencerahan yang mereka dapatkan, namun justru semakin jauh dari Tuhannya.

Kita patut bersyukur karena kita masih ditakdirkan Allah berjumpa dengan bulan suci Ramadhan tahun ini, saat di mana kita sepantasnya melakukan introspeksi diri, sejauh mana kita telah berusaha menjadi hamba Allah SWT yang pantas dicintai dan sejauh mana kita berusaha meneladani Rasulullah SAW dalam segala segi kehidupan. Bukankah selama ini yang kita kejar dan lebih kita utamakan adalah cinta manusia, nilai akademik, harta, karier, jabatan, dan sebagainya yang mungkin justru membuat kita semakin jauh dari Sang Pencipta.

Jika sekarang kita sudah menemukan cinta yang pernah hilang, semoga cinta itu tidak akan pernah pergi lagi. Dan cinta itu bisa terus tumbuh dan bermekaran… menghiasai bulan diturunkannya Al Quran, di malam yang lebih mulia dari seribu bulan… dan menjadikan cinta kita kepada kekasih, istri, suami, keluarga, sahabat, dan semua makhluk di bumi ini sebagai bentuk/manifestasi cinta kita kepada Sang Pemilik Cinta Sejati, Allah Azza wa Jalla.

Salam cinta dari hati!

Cinta, Pesan Untuk Kekasihku

Dalam hidup kamu

Aku ingin menjadi orang yang pertama

Yang dengar keluh kesah

Rasa duka lara

Masalah yang aku alami

Agar aku bisa segala bantu

Untuk selesaikan hal itu

Akan tetapi

Aku juga ingin jadi orang yang terakhir

Yang kau beri kabar

Suka cita serta bahagiamu

Agar aku selalu bisa tersenyum

Dibalik bayang bayang kebahagianmu
 

Icha..dengan puisi ini

aku ungkapkan perasaanku padamu

sebuah jawaban itulah yang aku harap

namun segala keputusan itu sepenuhnya ada ditanganmu

Dia Telah Pergi

Kesepian kini temani hari-hariku lagi
Bintangku tak dapat lagi bersinar terang
Cintaku seolah pergi menggapai harapannya seorang diri

Harapanku pudar sudah…
Hilang… lenyap…
Tak ada lagi suara-suara rindu untukku
Tak ada lagi warna cintaku

Cinta pergi entah berapa lama..
Harus kulupakan dirimu
Walau sulit tuk lupakan semua..

Kesepian ku kini terulang kembali
Rinduku tak kan lagi terbalaskan
& tak kan ada lagi belaian mesra untukku

Bintang hatiku kini telah pergi
Terbang tinggi keatas
Dan mungkin tak kan kembali lagi kebumi

Lupakan…lupakan yang terjadi..
Mungkin kita bukan saling mencinta..

Tetapi hanya saling menyayang…
Karya : Koko Anggoro

Sepotong Mimpi

Dapatkah seseorang mencinta hanya karena sepotong mimpi? Mustahil. Namun, adikku semata wayang mengalaminya – setidaknya itu yang diakuinya.

Gadis yang dicintainya adalah Lala, adik sepupunya sendiri. Wajar, bukan? Bahkan, menjadi halal saat kedua orang tuaku kemudian berpikir untuk meminangnya.

Semua berawal dari penuturan Jamal. Ia bilang, ia memimpikan Lala sebagai gadis yang diperkenalkan Ibu kepadanya sebagai calon istrinya.

“Kami sudah saling mengenal, Bu,” kata Jamal dalam mimpi itu dengan malu-malu. Gadis itu pun mengangguk dengan senyum malu-malu pula.

Sebenarnya Jamal tidak terlalu meyakini gadis itu adalah Lala. Wajahnya samar terlihat. Namun, Jamal merasakan aura gadis itu cukuplah ia kenal. Hebatnya, ini diperkuat oleh ayah kami. Di malam yang sama, beliau bermimpi tentang Jamal yang duduk di kursi pelaminan bersama Lala! Apakah ini pertanda? Entah. Hanya saja, sejak itu aku merasakan pandangan Jamal terhadap Lala berubah.

Mereka sebenarnya teman bermain di waktu kecil, namun tak pernah bertemu lagi sejak remaja. Keluarga Lala tinggal jauh di Surabaya, sementara kami di Jakarta. Kami jarang berkumpul, bahkan saat lebaran, sehingga kenangan yang dimiliki Jamal tentang Lala adalah kenangan di masa kecil dulu sebagai abang yang kasih kepada adiknya. Kasih dimana sama sekali tak terpikirkan untuk memandang Lala sebagai gadis yang pantas dicintai, bahkan halal dinikahi. Namun, mimpi itu mampu menyulap semuanya menjadi…cinta (?).

Mari katakan aku terlalu cepat menyimpulkan sebagai cinta. Barangkali saja itu hanya pelangi yang tak kunjung sirna mengusik relung hati adikku. Pelangi yang mampu merubahnya menjadi sok melankolis hingga membuat kami sekeluarga khawatir melihat ia kerap termenung menatap kejauhan, untuk kemudian mendesah perlahan.

“Mungkin kau harus menemuinya di Surabaya,” kata Ibu.

”Rasanya tak usah, Bu. Masak hanya karena bunga tidur aku menemuinya,” jawab Jamal.

”Barangkali saja itu pertanda.”

”Bahwa Lala jodoh saya?”

”Bukan. Bahwa sudah lama kau tak mengunjungi mereka untuk bersilaturahmi. Biar nanti Mbakmu dan suaminya yang menemanimu kesana.”

Jamal tertegun sejenak untuk kemudian mengangguk.

Wah, pintar sekali Ibu membujuk. Padahal tanpa sepengetahuan adikku yang pendiam itu, Ibu menyerahi kami tugas untuk ”meminang” Lala. Ibu betul-betul yakin mimpi itu sebagai pertanda sehingga memintaku menanyakan kepada Lala tentang kemungkinan kesediaannya dipersunting Jamal.

”Kenapa tidak minta langsung saja pada Paklik? Biar mereka dijodohkan saja,” kataku waktu itu.

”Ah, adikmu itu takkan mau.”

”Tapi…”

”Sudahlah. Ibu tahu Jamal belum terlalu dewasa. Kuliah saja belum selesai. Tapi setidaknya ia memiliki penghasilan dari usaha sambilannya berdagang, ‘kan?”

“Bukan itu maksudku. Apa Ibu yakin Jamal mau dengan Lala? Barangkali saja mimpinya hanya romantisme sesaat.”

Ibu tercenung. Aku yakin Ibu belum memastikan ini. Yang beliau tahu hanya Jamal yang bertingkah aneh. Itu saja. Selebihnya ia perkirakan sendiri. Sepertinya justru Ibulah yang ngebet ingin meminang Lala.

”Kupercayakan semua itu padamu.”

Walah! Berarti tugasku berlipat-lipat! Selain memastikan kesediaan Lala, aku pun harus memastikan perasaan adikku sendiri.

***

Ia diam. Sudah kuduga reaksinya begitu jika kutanyakan tentang kemungkinan perjodohannya dengan Lala.

“Kamu mencintainya?” Aku mengganti pertanyaan. Kali ini Jamal malah terkekeh.

”Mungkin… Entahlah. Rasanya tak wajar.”

Tentu saja tak wajar! Bagiku, mencinta karena sepotong mimpi hanya omong kosong. Lagi pula Jamal tak tahu seperti apa wajah dan kepribadian Lala dewasa ini. Aku pun tak tahu.

“Santai saja, Mal. Tak usah dipikirkan. Yang penting kita tiba dulu di sana,” kata Bang Rohim, suamiku.

***

Setiba di Surabaya, kami disambut keluarga Lala hangat.

”Wah, iki Jamal tho? Oala, wis gedhe yo?!” ucap Bulik.

Jamal hanya tersenyum. Apalagi saat pipi gendutnya dijawil Bulik seperti saat ia kanak-kanak dulu.

”Mana Lala, Bulik?” tanyaku saat tak mendapati anak semata wayangnya itu.

”Ada di dapur. Sedang bikin wedhang.”

Aku segera ke dapur. Aku sungguh penasaran seperti apa Lala sekarang. Kulihat seorang gadis di sana. Subhanalah, cantiknya! Ia mencium tanganku. Hmm, santun pula. Cukup pantas untuk Jamal. Tapi, aku harus menahan diri. Kata Bang Rohim, butuh pendekatan persuasif untuk menjalankan misi ini. Aku tak yakin aku bisa sehingga menyerahkan sepenuhnya skenario kepadanya.

Tak banyak yang dilakukan Bang Rohim selain meminta Lala menjadi guide setiap kami bertiga pergi ke pusat kota. Ia melarangku membicarakan soal perjodohan, pernikahan, pinangan atau apapun istilahnya kepada Lala. Katanya, kendati kami keluarga dekat, sudah lama kami tidak saling bersua. Bisa saja Lala memandang kami sebagai ”orang asing”. Upaya melancong bersama ini demi untuk mengakrabkan kembali Jamal, Lala dan aku. Kiranya ini dapat memudahkanku saat mengutarakan maksud kedatangan kami sesungguhnya nanti.

Malam ini saat dimana aku diperbolehkan suamiku mengungkapkan semuanya kepada Lala. Seharusnya memang begitu. Tapi Jamal mendahuluiku. Tak kusangka ia serius dengan perasaannya. Ia utarakan semuanya. Tentang mimpinya, tentang jatuh cinta, bahkan tentang pinangan.

“Mungkin Dik Lala menganggap ini konyol. Abang juga merasa begitu. Tapi, setidaknya sekarang Abang yakin dengan perasaan Abang. Jadi, mau tidak kalau Lala Abang lamar?”

Bukan manusia kalau Lala tidak kaget ditembak seperti itu. Ia tampak galau. Seperti aku dulu. Sayang Lala tak merespon seperti aku merespon pinangan Bang Rohim dulu.

“Maaf, Mas. Aku terlanjur menganggapmu sebagai kakak. Rasanya sulit untuk merubahnya.”

Berakhirlah. Sampai di sini saja perjuangan kami di Surabaya. Jamal tersenyum mengerti, namun kuyakini hatinya kecewa. Cintanya yang magis tak berakhir manis. Kami pulang ke Jakarta dengan penolakan.

Sejak hari itu, Jamal tak terlihat lagi melankolis. Ia kembali sibuk dalam aktivitasnya. Adikku itu benar-benar hebat. Kendati patah hati, ia tak mau larut dalam perasaannya. Bahkan, belakangan aku tahu ia belum menyerah. Setidaknya penolakan itu berhasil mengakrabkan kembali Jamal dengan Lala. Mereka berdua kerap berkirim SMS sekedar menanyakan kabar ataupun saling bercerita. Jamal betul-betul memandang ini sebagai peluang untuk mengubah pandangan Lala terhadapnya.

Waktu kian berganti hingga masa dimana Jamal mengutarakan lagi keinginannya itu. Sayang ditolak lagi. Begitu berulang hingga tiga kali.

Ayah dan Ibu prihatin melihatnya. Mereka tak bisa berbuat banyak. Keinginan mereka untuk menjodohkan saja keduanya Jamal tolak.

”Syarat orang yang menjadi calon istriku, haruslah tulus ikhlas menjadi pendampingku. Atas kemauannya sendiri, bukan pihak lain!” Begitu alasannya selalu.

Terserahlah apa katanya. Tapi ini sudah menginjak tahun kelima Jamal memelihara cinta tak kesampaian ini. Usianya kian mendekati kepala tiga. Cukup mengherankan ia tetap memeliharanya terus. Rasanya tak layak cinta itu dipelihara terus. Ia harus diberangus. Lala bukanlah gadis terakhir yang hidup di dunia. Untuk itu Ibu, Ayah dan aku kongkalikong untuk membunuh cinta Jamal. Sudah saatnya ia mempertimbangkan gadis-gadis lain. Kebetulan ada yang mau. Pak Haji Abdullah sejak lama ingin bermenantukan Jamal dan menyandingkannya dengan Azisa, anak sulungnya. Kami susun perjodohan tanpa sepengetahuan Jamal. Lantas, kami sekeluarga berusaha ”menghasut” Jamal untuk memperhitungkan keberadaan Azisa, temannya sejak SMU itu.

Alhamdulillah berhasil. Hati Jamal mulai terbuka untuk Azisa sehingga saat Pak Haji Abdullah meminta dirinya menjadi menantu, ia tak punya lagi pilihan selain mengiyakan.

***

Kesediaan Jamal memang sudah didapat, namun anehnya ia tak kunjung juga menentukan tanggal pernikahan. Kali ini naluriku sebagai kakak turut bermain. Rasanya Jamal tengah menghadapi masalah yang tak dapat dibaginya kepada siapapun, termasuk Azisa. Saatnya aku menjadi kakak yang baik untuknya.

”Entahlah, Mbak. Rasanya aku tak siap untuk menikah.”

Mataku terbelalak saat Jamal mengutarakan penyebabnya.

”Apa pasal?” tanyaku agak jeri. Aku tak berani membayangkan jika Jamal tiba-tiba membatalkan perjodohan. Keluarga kami bisa menanggung malu!

”Rasanya Azisa bukan jodohku.”

Aku semakin terkesiap. Aku mulai menduga-duga arah pembicaraannya.

”Lala-kah?” tanyaku. Jamal mengangguk pelan, namun pasti.

”Sebenarnya mimpi tempo hari itu tak sekonyong datang. Aku memintanya kepada Tuhan. Aku meminta Dia memberikan petunjuk tentang jodohku kelak. Dan yang muncul ternyata Lala!”

Aku kembali terdiam. Aku benar-benar payah. Sudah setua ini, masih saja tak dapat menjadi kakak yang baik buat Jamal. Aku bingung harus menanggapi bagaimana.

”Maafkan jika selama ini Mbak tak bisa menjadi kakak yang baik, Mal. Bahkan untuk masalahmu satu ini pun Mbak tak bisa menjawab. Hanya saja, kita tak akan pernah benar-benar tahu apa yang kita yakini benar itu sebagai kebenaran, Mal. Termasuk mimpimu. Mbak tidak tahu lagi harus menganggapnya omong kosong ataukah benar-benar pertanda. Kalaulah mimpi itu pertanda, pasti banyak sekali maknanya.”

”Kamu memaknainya sebagai cinta dan jodoh, Ibu memaknainya sebagai silaturahmi dan Ayah memaknainya sebagai tipikal istri ideal bagimu. Bukankah Azisa pun tak berbeda jauh dengan Lala? Mimpi itu nisbi, Mal.”

Jamal hanya mendesah pelan sambil memandang kejauhan. Mukanya masam. Mungkin tak menghendaki aku bersikap tak mendukungnya.

”Mungkin,” lanjutku, ”ini hanya masalah cinta saja. Mungkin hatimu masih hidup dalam bayangan Lala dan tak pernah sekali pun memberi kesempatan untuk dimasuki Azisa. Kau hidup di kehidupan nyata, Mal. Sampai kapan akan menjadi pemimpi?!”

Aku tersentak oleh ucapanku sendiri. Tak kuduga akan mengucapkan ini. Bukan apa-apa. Beberapa waktu lalu kami mendengar kabar Lala menerima pinangan seseorang. Kendati menyerah, aku yakin Jamal masih memiliki cinta untuk Lala. Ia pasti sakit. Aku betul-betul kakak yang tak peka. Aku menyesal. Aku peluk Jamal, menangis sesal.

Jamal turut menangis. Isaknya berenergi kekesalan, kekecewaan, kesepian, keputus-asa-an, bahkan kesepian. Aku terenyuh. Betapa ia menderita selama ini.

“Besok kita batalkan saja perjodohan dengan Azisa, Mal. Itu lebih baik ketimbang kau tak ikhlas menjalaninya nanti. Itu katamu tentang pernikahan, ‘kan? Kita bicarakan dulu dengan Ayah dan Ibu.”

Kupikir ini yang terbaik. Tak bijak rasanya tetap berkeras melangsungkan perjodohan di saat Jamal rapuh begini. Di saat Jamal terluka dan bimbang pada perasaannya. Biarlah keluarga kami menanggung malu bersama.

“Tidak. Kita teruskan saja. Aku ikhlas menjalani sisa hidupku bersama Azisa. Mungkin aku hanya membutuhkan sedikit menangis saja. Aku pergi dulu ke rumah Pak Haji untuk membicarakan ini. Assalamu’alaikum.”

Kutatap kepergian Jamal dengan perasaan tak tentu. Kalau diingat semua ini terjadi karena mimpi. Ya, Allah apakah benar mimpi itu pertanda-Mu? Jikalau benar kenapa sulit sekali terrealisasi? Jika pun tidak benar kenapa banyak orang mempercayai?

Aku terpekur. Maafkan aku adikku. Aku hanyalah insan, yang tak mampu menerjemahkan segala misteri-Nya, bahkan yang tersurat sekalipun. Aku hanya berusaha. Dia tetap yang menentukan. Maafkan aku.

Penulis :Hara Hope

Calon Buat Ajeng

Calon Suami???!

Pfui, kuhembuskan nafasku kuat-kuat. Bosan aku. Lagi-lagi calon suami yang dibicarakan. Bayangin, sudah dua bulan ini tidak ada topik yang lebih trend di rumah, selain soal suami.

Mulai dari Papi yang selalu nyindir, sudah pengen menimang cucu. Mami yang berulang-ulang menasihatiku agar jangan terlalu pilih-pilih tebu. Lalu Bambang, adikku, yang kuharap bisa menetralisir suasana, tak urung ikut menggoda. Bahkan si kembar Rani-Rano, yang masih es em pe pun, ikut-ikutan menceramahiku.

”Mbak Ajeng kan udah jadi insinyur, udah waktunya dong, mikirin berkeluarga. Lagian, Rani sama Rano kan udah pengen dipanggil ’Tante dan Oom’. Tika aja yang baru kelas enam, keponakannya udah empat!”

”Iya, Mbak. Jaman sekarang, perempuan itu harus agresif. Mbak Ajeng sih, kerjanya belajar ama ngaji melulu!” Rano menimpali kata-kata kembarnya.

Aku hanya bisa melotot, nemu di mana lagi pendapat kayak gitu.

”Udah sana kalian belajar!” hardikku agak keras.

”Tuh, kaaaan?!?” seru mereka berdua kompak.

Huhh, dasar kembar!

***

”Ajeng…!”

Kudengar panggilan Mami dari depan. Pelan aku bangkit dari meja belajar. Setelah merapikan jilbab, aku keluar.

”Ada apa, Mi?” tanyaku lunak. Sekilas sempat kulihat sosok seorang lelaki, duduk di sudut ruangan.

Kedua bola mata Mami tampak bersinar-sinar. Oo…Oo…! Pasti ada yang nggak beres, gumamku dalam hati. Iiih..su’udzon! Tapi….

Benar saja.

“Ajeng, kenalin. Ini tangan kanan Papi di kantor. Hebat, ya! Masih muda sudah jadi Wakil Presiden Direktur. Ayo, kenalin dulu. Ini Nak Bui….”

”Boy, Tante!”

”Eh, iya. Boi!”

Aku hanya bisa menahan geli. Mami…Mami…!

Rasa geliku mendadak hilang, ketika selama dua jam berikutnya aku harus mendengarkan obrolan Mami dengan Si Boi tadi.

Bukan main, lagaknya! Batinku menggerutu sendiri, mendengar cerita-ceritanya yang melulu berbau luar negeri.

”Jadi, Tante, selama belajar di Harvard, saya sudah coba-coba berbisnis sendiri. Hasilnya lumayan. Saya bisa jalan-jalan keliling Amerika, bahkan Eropa setiap kali holiday!”

Hihhh, gemas aku! Terlebih melihat pancaran kagum di wajah Mami. Benar-benar nggak peka nih anak. Kok bisa sih nggak merasa dicuekin? Tetap aja ngomong. Tak perduli aku yang cuma diam dan sesekali manggut. Kupanjatkan syukur yang tak terkira ketika akhirnya Si Boi pulang. Alhamdulillah!

***

Kulihat Bambang tertawa. Kesal, kulemparkan bantal ke arahnya. Orang cerita panjang lebar minta advise, kok cuma diketawain?!?

”Bang, serius, dong! Pokoknya kalau nanti Mami nanyain kamu soal Boy, awass kalau kamu setuju!” ancamku serius. Bambang masih cengar-cengir.

”Mbak Ajeng gimana, sih? Biasanya Mbak yang nyuruh aku sabar menghadapi segala sesuatu. Lho, kok sekarang malah panasan gini? Tenang aja, Mbak, sabar! Innallaha ma’ashshabirin!” balasnya sambil mengutip salah satu ayat di Al-Quran.

Iya, ya. Kenapa aku jadi nggak sabaran gini. Baru juga ngadepin si Boy. Astaghfirullah!

”Mbak bingung, Bang! Habis serumah pada mojokin semua. Kamu ngerti, kan, milih suami itu nggak mudah. Nyari yang shalih sekarang susah. Mbak nggak pengen gambling. Salah-salah pilih, resikonya besar. Nggak main-main, dunia akhirat!”

Sekejap, kulihat keseriusan di matanya. Cuma sekejap, sebelum ia kembali menggodaku.

”Apa perlu Bambang yang nyariin???!”

Lemparan bantalku kembali melayang.

***

Kriiiiing…!!!

Ups, kumatikan bunyi weker yang membangunkanku. Jam tiga lebih seperempat. Aku bangun dari tempat tidur, bergegas ke kamar mandi untuk berwudhu. Kuperhatikan lampu kamar Bambang masih menyala. Sayup-sayup suara kaset murattal terdengar.

Tercapai juga niatnya untuk begadang malam ini, pikirku. Heran, kebiasaan menghadapi ujian dengan pola SKS (Sistem Kebut Semalam) masih membudaya rupanya.

Cepat kuhapuskan pikiran tentang Bambang dan ujiannya. Mataku nanar menyaksikan pantulan wajahku di cermin. Kuhapus tetesan air wudhu yang tersisa dengan handuk kecil. Oooohh, begini rupanya gadis di penghujung usia dua puluh sembilan? Kuperhatikan bentuk wajahku yang makin tirus. Baru kusadari, betapa pucatnya wajah itu. Entah kemana perginya rona merah yang biasa hadir di sana. Mungkin hilang termakan usia. Ya Rabbi, pantas saja Papi dan Mami begitu khawatir. Sudah sulung mereka tak cantik, menjelang tua, lagi!

”Ir. Ajeng Prihartini.” Kueja namaku sendiri.

”Jangan cemas ya ukhti, ini bukan nasib buruk!” Bisikku menghibur. Bagaimana pun aku harus tetap tawakkal pada Allah. Jodoh, rizki, dan maut, Dia yang menentukan. Berjodoh di dunia bukanlah satu kepastian yang akan kita raih dalam hidup. Tidak, ada hal lain yang lebih penting, lebih pasti. Ada kematian, maut yang pasti kita hadapi. Sesuatu yang selama ini sering kuucapkan kepada saudaraku muslimah yang lain, ketika mereka ramai meresahkan calon suami yang tak kunjung datang.

”Sebetulnya kita ini lucu, ya? Lebih sering mempermasalahkan pernikahan, hal yang belum tentu terjadi. Maksud Ajeng, bergulirnya waktu dan usia, nggak seharusnya membuat kita lupa untuk berpikir positif terhadap Allah. Boleh jadi calon kita ini nggak buat di dunia, tapi disediakan di surga. Mungkin Allah ingin memberikan yang lebih baik, who knows?” ujarku optimis, dua tahun yang lalu.

Astaghfirullah! Ishbiri ya ukhti, isbiri….

Tanganku masih menengadah, berdoa, saat kudengar azan Subuh berkumandang. Hari baru kembali hadir. Alhamdulillah, terima kasih ya Allah, untuk satu hari lagi kesempatan beramal dan taubat, yang masih Kau berikan.

***

Selesai berurusan dengan Mami untuk masalah Boy, gantian aku harus menghadapi Tante Ida yang siap mempromosikan calonnya. Duhh! Lagi-lagi aku cuma bisa manggut-manggut.

”Tante sih terserah Ajeng. Pokoknya lihat aja dulu. Syukur-syukur Ajeng suka. Dia anak lurah. Bapaknya termasuk juragan kerbau yang paling kaya di Jawa. Tapi nggak kampungan, kok. Anak kuliahan juga seperti kamu!” promosi Tante Ida bersemangat.

Dua hari kemudian, Tanteku itu kembali datang dengan ’balon’nya.

”Junaedi. Panggil aja Juned!”

Aku hanya mengangguk. Tak membalas uluran tangan yang diajukannya.

Selama pembicaraan berikutnya, berkali-kali aku harus menahan diri, untuk tidak lari ke dalam. Aku tidak ingin menyinggung perasaan Tante Ida. Apalagi beliau bermaksud baik. Hanya saja, asap rokok Juned benar-benar membuatku mual. Malah nggak berhenti-henti. Habis sebatang, sambung sebatang. Persis lokomotif uap jaman dulu!

Dengan berani pula ia mengomentari penampilanku.

”Eng…jangan tersinggung ya, Jeng. Aku suka bingung sendiri ngeliat perempuan yang memakai kerudung. Kenapa sih tidak pintar-pintar memilih warna dan mode?! Aku kalau punya isteri, pasti tak suruh beli baju yang warna-warnanya cerah, menyala. Sekaligus yang bervariasi. Seperti yang dipakai artis-artis kita yang beragama Islam itu lho, sekarang. Ndak apa-apa toh sedikit kelihatan leher atau betis?! Maksudku biar tidak terlihat seperti karung berjalan gitu lho, Jeng! Hahaha….”

Kontan raut mukaku berubah. Tanpa menunggu rokok keenamnya habis, aku mohon diri ke dalam. Tak lama kudengar suara Juned pamitan. Alhamdulillah.

Ketika Tante Ida menanyakan pendapatku, hati-hati aku menjawab.

”Maaf ya, Tan…, rasanya Ajeng nggak sreg. Terutama asap rokoknya itu, lho. Soalnya Ajeng punya alergi sama asap rokok. Mana kelihatannya Juned perokok berat, lagi. Maaf ya, Tan…, udah ngerepotin.”

Bayang kekecewaan tampak menghiasi raut muka Tante Ida.

”Bener, nih…nggak nyesel? Tante cuma berusaha bantu. Ajeng juga mesti memikirkan perasaan Mami sama Papi. Susah lho, nyari yang seperti Juned. Udah ganteng, dokterandes lagi! Terlebih kamu juga sudah cukup berumur.”

Bujukan Tante Ida tak mampu menggoyahkanku. Dengan masih kecewa, beliau beranjak keluar. Sempat kudengar Tante Ida berbicara dengan Papi dan Mami. Sempat pula kudengar komentar-komentar mereka yang bernada kecewa, sedih. Ya Allah, kuatkan hamba-Mu!

Hari berangsur malam. Aku masih di kamar, mematung. Beragam perasaan bermain di hatiku. Sementara itu, hujan turun rintik-rintik.

***

Siang begitu terik. Langkahku lesu menghampiri rumah. Capek rasanya jalan setengah harian, dari satu perpustakaan ke perpustakaan IPB lainnya. Namun buku yang kucari belum juga ketemu. Padahal buku itu sangat kuperlukan untuk menghadapi ujian pasca sarjanaku sebentar lagi. Sia-sia harapanku untuk bisa beristirahat pulang ke Depok. Kereta yang kutumpangi benar-benar penuh. Sudah untung bisa berdiri tegak, dan tidak doyong ke sana ke mari, terdesak penumpang yang lain.

”Assalamu’alaikum!” perasaanku kembali tidak enak, melihat Mami yang tidak sendirian. Seorang lelaki berjeans, dengan sajadah di pundak, dan kopiah di kepala, tampak menemani beliau. Jangan…jangan….

”Wa’alaikumussalam. Nah, ini Ajengnya sudah pulang. Ajeng, sini sayang. Kenalkan, Saleh. Putera Pak Camat yang baru lulus dari pondok pesantren di Kalimantan. Kalian pasti bisa bekerja sama mengelola kegiatan masjid di sini. Lho, Ajeng…, kok malah diam? Maaf Nak Saleh, Ajeng memang pemalu orangnya.”

Duhh, Mami!

Kali ini Mami membiarkanku berdua dengan tamunya itu. Risih, kuminta Rani mendampingiku. Dia setuju setelah aku janji akan menemaninya mendengar ceramah di Wali Songo, pekan depan.

Selama Saleh berbicara, aku menunduk terus. Bisa kurasakan pandangannya yang jelalatan ke arahku. Dengan gaya bahasa yang tinggi, Saleh bercerita tentang berbagai kitab berbahasa Arab yang telah dia kuasai. Bukan main. Lalu ia mulai membahas satu persatu perbedaan pendapat di kalangan umat Islam. Soal doa qunut, perbedaan doa iftitah, masalah posisi telunjuk ketika tahiyat, dan lain-lain yang senada.

Terus terang, aku tidak begitu setuju dengan caranya. Betul bahwa semuanya harus kita ketahui. Tapi bagiku, dengan makin meributkannya, hanya akan memperuncing perbedaan yang ada. Cukuplah bahwa masing-masing berpegang pada sunnah Rasulullah. Tentunya akan lebih baik, jika kita justru berusaha mencari titik temu atau persamaan, dan bukan malah memperlebar jurang perbedaan.

”Kalau menurut Saleh, kasus Bosnia itu bagaimana?” tanyaku mengalihkan perhatian.

”Oooh, itu. Ane sangat tidak setuju. Menurut pendapat dan analisa ane, tidak seharusnya masalah Bosnia itu digembar-gemborkan. Itu akan membuat sikap tersebut kian membudaya. Sudah saatnya pola sikap ngebos, dan penghargaan masyarakat terhadap orang-orang yang punya kedudukan, diarahkan sewajarnya. Agar tidak berlebihan.” ulasnya panjang lebar.

Gantian aku yang bingung.

”Saya…saya tidak paham apa yang Saleh maksudkan.” ujarku sedikit gagap.

”Kenapa? Apa karena bahasa yang ane gunakan terlalu tinggi atau bagaimana, hingga Ajeng sulit memahami?”

Aku tambah melongo.

”Bukan itu, ini…, Bosnia yang mana, yang Saleh maksudkan?” tanyaku makin bingung.

”Lha, yang nanya kok malah bingung?! Yang ane bicarakan tadi ya tentang Bosnia, Boss-Mania, kan maksud Ajeng?!!”

Ufh, kutahan tawa yang nyaris meledak. Bingung aku, ternyata masih saja ada orang yang meributkan hal-hal yang relatif lebih kecil, dan melupakan masalah lain yang lebih besar. Dari sudut mataku, kulihat Rani pringas-pringis menahan geli, sambil mempermainkan kerudung pink-nya. Lucu sekali.

”Bukan, yang Ajeng maksudkan adalah penindasan yang terjadi pada saudara-saudara muslim kita di Negara Bosnia.” aku berusaha menjelaskan dengan sabar.

Tampak Saleh manggut-manggut.

”Ooooh, yang itu. Ya…jelas penindasan itu tidak bisa dibenarkan. Tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan keadilan,” ujar Saleh optimis, lalu….

”Ngomong-ngomong, Bosnia itu di mana, sih?”

Tawa Rani meledak.

Duhhh, Mami!!!

***

Malamnya, waktu aku protes ke Mami, soal calon-calon itu, tanpa diduga, malah Mami yang marah.

”Lho, kamu itu gimana toh? Kata Bambang kamu maunya sama Saleh. Pas Mami temuin, kamu bilang bukan yang seperti itu yang kamu inginkan. Jadi sebenarnya, Saleh yang mana calon kamu itu?” suara Mami meninggi.

Aku terhenyak. Bambang yang duduk di kursi makan tersenyum simpul. Awas, kamu de’! Bisikku gemas.

”Bukan yang namanya Saleh, Mi. Ajeng ingin orang yang saleh, yang taat beribadah. Orang yang punya pemahaman paling tidak mendekati menyeluruhlah, tentang Islam. Yang Islamnya nggak cuma teori, tapi ada bukti. Yang nggak jelalatan memandang Ajeng terus-terusan dari ujung jilbab sampai kaos kaki, seperti hendak menawar barang dagangan. Ajeng tahu, usia Ajeng sudah jauh dari cukup. Ajeng juga pengen segera menikah. Perempuan mana sih, yang tidak ingin berkeluarga, dan punya anak?” lanjutku hampir menangis.

”Tapi…, tolong. Jangan menyudutkan Ajeng. Tolong Mami bantu Ajeng agar bisa tetap sabar, tetap tawakkal sama Allah. Kita memang harus berusaha, tapi jangan memaksakan diri. Biar Ajeng mesti nunggu sampai tua, Ajeng siap. Daripada bersuamikan orang yang akhlaknya tidak Islami. Tolong Ajeng, Mi…tolong!” Kusaksikan mata Mami berkaca-kaca. Diraihnya aku ke dalam pelukannya. Berdua kami berisakan. Papi turut menghampiri, menepuk-nepuk pundakku. Rani dan Reno terdiam di kursinya.

”Maafin Mami, sayang….” suara Mami lirih, memelukku makin erat.

***

Kesibukanku menulis diary terhenti.

”Mbak Ajeng…telepon tuh!” pekik Rano keras.

”Dari siapa? Kalau dari Anto Boy, Didin, Juned, atau Saleh, Mbak nggak mau terima!” balasku agak keras.

Hening, tidak ada panggilan lanjutan dari Rano. Aku lega.

Alhamdulillah, sejak kejadian malam itu, perlahan topik trend kami bergeser. Mami tidak lagi menyodorkan calon-calonnya, sebelum menanyakan kesediaanku. Beberapa Oom dan Tante yang datang, harus pulang dengan kecewa karena promosi dibatalkan. Aku masing ingin menenangkan diri dulu.

Kuraih pena. Dengan hati seringan kapas, aku mulai menulis:

Kepada Calon Suamiku….

Usiaku hari ini bertambah setahun lagi.

Tiga puluh tahun sudah. Alhamdulillah. Kuharap, tahun-tahun yang berlalu, meski memudarkan keremajaanku, namun tidak akan pernah memudarkan ghirah Islamiah yang ada. Mudah-mudahan aku bisa tetap istiqamah di jalan-Nya.

Ujian pasca sarjanaku sudah selesai. Sebentar lagi, satu embel-embel gelar kembali menghiasi namaku. Belum lama ini aku juga mengambil kursus jahit dan memasak. Dengan besar hati pula, Mami mesti mengakui, bahwa kemahirannya di dapur, kini sudah tersaingi.

Alhamdulillah, sekarang aku lebih bisa berkonsentrasi untuk menulis, dan memberikan berbagai ceramah di beberapa kampus dan masjid. Baru sedikit itulah, yang bisa kulakukan sebagai perwujudan syukurku atas nikmat-Nya yang tak terhitung.

Calon suamiku….

Aku maklum, bila sampai detik ini kau belum juga hadir. Permasalahan yang menimpa kaum muslimin begitu banyak. Kesemuanya membentuk satu daftar panjang dalam agenda kita. Aku yakin ketidakhadiranmu semata-mata karena kesibukan dakwah yang ada. Satu kerja mulia, yang hanya sedikit orang terpanggil untuk ikut merasa bertanggung jawab. Insya Allah, hal itu akan membuat penantian ini seakan tidak pernah ada.

Calon suamiku….

Namun jika engkau memang disediakan untukku di dunia ini, bila kau sudah siap untuk menambah satu amanah lagi dalam kehidupan ini, yang akan menjadi nilai plus di hadapan Allah (semoga), maka datanglah. Tak usah kau cemaskan soal kuliah yang belum selesai, atau pekerjaan yang masih sambilan. Insya Allah, iman akan menjawab segalanya. Percayakan semuanya pada Allah. Jika Dia senantiasa memberikan rizki, padahal kita tidak dalam keadaan jihad di jalan-Nya, lalu bagaimana mungkin Allah akan menelantarkan kita, sedangkan kita senantiasa berjihad di sabil-Nya?!

Banyaklah berdoa, Calon Suamiku, di manapun engkau berada. Insya Allah, doaku selalu menyertai usahamu.

Wassalam,

Adinda

NB: Ngomong-ngomong, nama kamu siapa, sih?

”Syahril… Nama saya Syahril.”

Deg! Aku tersentak. Pena yang kugenggam jatuh. Rasa-rasanya kudengar satu suara. Sedikit berjingkat, aku melangkah ke depan. Sebelum aku sempat menyibak tirai yang membatasi ruang makan dengan ruang tamu, kudengar suara Papi memanggilku.

”Ajeng…!”

Hampir aku terjatuh, saking tergesanya menghampiri beliau. Sekilas mataku menyapu bayangan seorang lelaki berkaca mata, yang berdiri tak jauh dari Papi, dengan wajah tertunduk, rapat ke dada. Di belakangnya, Bambang berdiri dengan senyum khasnya.

”Nah, Nak Syahril, kenalkan, ini yang namanya Ajeng. Puteri sulung Oom. Lho, kok malah nunduk?” suara ngebas Papi kembali terdengar.

Aku menoleh sesaat, yang dipanggil Syahril tetap menunduk.

”Ayo, salaman. Ini lho, Jeng…puteranya Mas Wismoyo, sahabat Papi sejak jaman revolusi dulu, sekaligus Ass Dos-nya Bambang di FISIP. Baru lulus ya Nak?”

Syahril mengangguk. Tapi, tetap tak ada uluran tangan.

”Assalamu’alaikum, Ajeng. Saya Syahril.”

Masya Allah! Aku masih melongo, terpana.

“Insya Allah, hari ini saya akan berta’aruf dengan Ajeng. Kalau Ajeng setuju, khitbahnya bisa dilaksanakan besok. Sesudah itu…mudah-mudahan kita bisa jihad bareng….”

Agak samar kudengar kalimatnya yang terakhir. Kulihat Papi tersenyum lebar, melirikku.

”Apa, Jeng…khitbah? Ngelamar, ya…??”

Aku mengangguk pendek, tersipu. Tawa Papi makin lebar.

Aku masih terpana.

Masya Allah, calon suamiku…eng…engng…ups, apakah…apakah…ini, kamu???

Penulis : Nur Amalia

30 Hal Membuat Cewek Tersenyum


Berikut ini adalah 30 Hal yg bisa Membuat Cewe kamu Tersenyum,semoga tips ini banyak membantu dan bermanfaat bagi kamu semua

1. Don't hug her friends or your friends that are girls cause she'll feel left out.
Jangan memeluk temannya atau temanmu dimana hal itu bisa membuatnya merasa ditinggalkan.

2. Hold her hand at any moment . . . even if it's just for a second.
Pegang tangannya pada setiap kesempatan... meskipun hanya sedetik saja.

3. Hug her from behind.
Peluk dia dari belakang.

4. Leave her voice messages to wake up.
Tinggalkan pesan suara untuk dia untuk membangunkan dia dari tidurnya.

5. Wrestle with her.
Bergulat dengan dia.

6. Don't go hang out with your ex when shes not with you, you might not realize how badly it hurts her.
Jangan pergi jalan-jalan dengan mantanmu jika dia sedang tidak bersama kamu, kamu mungkin tidak mengetahui betapa menyakitkannya hal itu bagi dia.

7. If you're talking to another girl, when you're done talking, walk over and hug her and kiss her.... let her know she's yours and they aren't.
Jika kamu sedang berbicara dengan seorang Cewe, setelah kamu selesai berbicara, berjalanlah dan peluklah dia serta ciumlah dia... Tunjukkan pada dia bahwa dia milikmu dan mereka bukan apa-apa.

8. Write her notes or call her just to say "hi"..and not just at night after you've already been out with other girls.
Tuliskan dia sebuah catatan atau telepon dia hanya untuk sekedar menyapanya... dan tidak hanya pada saat malam hari setelah kamu bepergian dengan Cewe-Cewe lain.

9. Introduce her to your friends . . . as your girlfriend.
Perkenalkan dia pada teman-temanmu... sebagai kekasihmu.


10. Play with her hair.
Bermain dengan rambutnya.

11. Pick her up
Gendong dia.

12. Get upset if another guy touches her and she doesn't like it.
Merasa kesal apabila ada Cowo lain memegang-megang dia dan dia tidak menyukainya.

13. Make her laugh, if you can make her laugh, you can make her do anything.
Buat dia tertawa, jika kamu bisa membuat dia tertawa. kamu bisa membuat dia melakukan apa saja.

14. Let her fall asleep in your arms.
Biarkan dia tertidur lelap di dalam pelukanmu.

15. If she's mad at you, kiss her.
Jika dia marah padamu, cium dia.

16. If you care about her, then tell her.
Jika kamu perhatian pada dia, katakan.

17. Every guy should give their girl 3 things: a stuffed animal(she'll hug it every time she goes to sleep), jewelry (she'll treasure it forever), and one of his t-shirts (she'll most likely wear it to bed).
Setiap Cowo harus memberikan Cewe mereka 3 benda: boneka binatang (dia akan membawanya dan memeluknya setiap kali dia akan tidur), perhiasan (dia akan menyimpannya dengan baik-baik untuk selamanya), dan baju yang dimiliki sang Cowo (dia akan memakainya ketika tidur).

18. Treat her the same around your friends as you do when you're alone.
Perlakukanlah dia sebagaimana biasanya, meskipun sedang berkumpul dengan teman-teman.

19. Look her in the eyes and smile.
Tataplah kedua matanya dan tersenyumlah pada dia.

20. Hang out with her on weekends.
Pergi jalan-jalan dengan dia tiap akhir pekan.

21. Kiss her in the rain.
Cium dia di bawah guyuran hujan.

22. If your listening to music, let her listen too.
Jika kamu sedang mendengarkan musik, biarkan dia ikut mendengarnya bersama kamu.

23. Remember her birthday and get her something, even if it's simple and inexpensive, it came from YOU. it means all the world to HER. it's the thought that counts.
Ingat hari ulang tahunnya dan belikan dia sesuatu, meskipun itu sederhana dan tidak mahal, itu adalah pemberian dari KAMU. Itu berarti segalanya bagi DIA.

24. When she gives you a present on your birthday, or just whenever, take it and tell her you love it, even if you don't (it'll make her happy.)
Ketika dia memberikan hadiah pada hari ulang tahunmu, atau pada saat-saat tertentu, ambillah dan katakan pada dia bahwa kamu menyukainya, meskipun sebenarnya tidak (hal itu akan membuatnya senang).

25. Girl don't necessarily have to have hour-long conversations every night, but it's nice for them to hear your voice even for a quick hello.
Cewe tidak butuh pembicaraan lewat telepon yang panjang dan berjam-jam tiap malam, yang terpenting adalah bisa mendengar suara kamu meskipun hanya sekedar sapaan atau 'halo?'.



26. Give her what she wants
Berikan dia apa yang dia mau.

27. Recognize the small things . . . they usually mean the most.
Hargai setiap hal kecil... itu biasanya berarti besar.

28. Tell her she's beautiful, she needs to know her striving is working.
Katakan pada dia bahwa dia cantik atau menarik, dia perlu tahu bahwa dandanannya tidak sia-sia.

29. Hang out with her whenever you are free and u should be free to hang with your girlfriend all the time
Pergi jalan-jalan bersama dia setiap kali kamu nganggur dan kamu harus siap mengajak kekasihmu jalan-jalan kapan saja.

30. If u care about her...SHOW it!
Jika kamu perhatian pada dia... TUNJUKKAN!

Primere English

PEKAN 1

West Brom Vs Manchester United

Manchester City Vs Swanse

Stoke City Vs Chelsea

Newcastle Vs Arsenal

Sunderland Vs Liverpool

Rabu, 14 September 2011

Romantis

Romantis kah Saya???
Berikut ini artikel untuk merubah Cara Pandang di dalam diri sendiri (Self Reframing) :

1.TAKLUKKAN DIRI SENDIRI

“Dia yang bisa menaklukkan orang lain adalah manusia kuat.
Dia yang bisa menaklukkan dirinya sendiri adalah manusia super.” (Lao Tze)
Perenungan Diri:
1. Malam hari sambil berbaring tidur, ambil waktu 1 - 2 menit.
2. Lakukan refleksi kegiatan hari ini secara cepat saja.
3. Tanyakan ke dalam diri sendiri: “Apakah masih ada emosi negatif yang tersimpan dalam diriku saat ini ?”
4. Lalu, tarik nafas yang dalam dan tahan nafas selama yang bisa Anda lakukan.
5. Bayangkan kejadian yang menimbulkan emosi negatif tersebut.
6. Buang dan lepaskan dengan menghembuskan nafas sepanjang mungkin.
7. Lanjutkan dengan bernafas perlahan saja, dan makin perlahan, sampai seluruh badan terasa rileks bak tanpa otot.
8. Diam sejenak dan ambil keputusan untuk berubah, misalnya: “Besok mau senyum aja aaah…” dan tidurlah dengan senyum… zzz…zzz…
Karena jika dengan ikhlas kita mulai bisa menaklukkan diri sendiri, maka kekalahan bukan lagi kekalahan, bukan?

2. BELAJAR DARI KEKALAHAN
“Jika Anda belajar sesuatu dari kekalahan,
sesungguhnya Anda tidak kalah” ( Zig Ziglar )
Saat Anda “merasa” kalah, lakukan berikut:
- Duduk diam dan tarik nafas panjang
- Cari penyebab kekalahan tersebut (cepat saja)
- Ambil pelajaran dari kekalahan itu
- Pejamkan mata: Tersenyumlah dan bersyukur
- Hembuskan nafas secepat mungkin
- Bangkit dan lompatlah setinggi mungkin
“Jika Anda belajar sesuatu dari kekalahan,
sesungguhnya Anda tidak kalah”
Pasti ada hikmah dari setiap kejadian, walau diberi nama “kalah”.


3. PELAUT TANGGUH …
(Bayangkan WS Rendra, ucapkan syukur dan hormat sebagai rasa kagum pada dia, masuk ke dalam diri dia dan bacakan lirik di bawah ini, bak WS Rendra)
Hidup adalah rangkaian masalah.
Jika kita melihatnya sebagai masalah.
Hidup adalah rangkaian tantangan.
Jika kita melihatnya sebagai peluang.
Tantangan penting untuk otot pikiran.
Tantangan membuat kita bertumbuh.
Tantangan membuat kita kreatif.
(baca berikut ini sambil hembuskan nafas)
Bersyukurlah jika kita mempunyai tantangan.
Karena artinya kita memiliki peluang.
(tahan nafas di perut dan baca dengan keyakinan kuat)
Ya, sebuah peluang untuk Menang.
Pepatah kuno mengatakan:
“Lautan yang tenang,
tidak menghasilkan pelaut yang tangguh”
Atasilah masalah dengan:
Tetaplah tersenyum.
Tetaplah bergandengan tangan.
Kita hanyalah berbeda, itu saja.

4. GIAT BEKERJA KUNCI SUKSES
“Tidak Ada Jalan yg Mulus utk Sukses,
Giat Bekerja Adalah Kuncinya” (George G Williams )
Perenungan Diri:
Hasil penelitian mengatakan bahwa Ketekunan, Keuletan, Kegigihan akan membuat
otot di seluruh tubuh kuat, baik otot badan, otot tangan, otot kaki, bahkan
“otot” di otak kita. Yang paling penting adalah membuat kuat Otot Pikiran kita.
“Anda tidak mungkin memahami Work Smart,
sebelum Anda memiliki mental Work Hard” (Krishnamurti)
Situasi Indonesia boleh tidak menentu,
tetapi nasib kita haruslah kita yang menentukan.
Kita cukup bergiat pada hal yang bisa kita kendalikan.


5. SIAPA YANG KAYA?
“Siapa yang kaya?
Dia yang bersukacita dengan apa yang dimilikinya.” (Benjamin Franklin)
Perenungan Diri:
Bersukacita dan bersyukur dengan apa yang kita miliki, justru akan membuat
kita semakin bertambah makmur dan sejahtera. Hukum alam semesta mengenai
sukses ini sebenarnya sederhana sekali. Kita hanya perlu keyakinan diri
saja bahwa hal ini benar.

6. CHOOSE TO BE HAPPY …
We always have a choice
We can choose to be happy
or we can choose to be grumpy
But It’s always better, smarter and wiser
to choose to be happy… (Melody Ross)

Perenungan diri: (baca dalam hati dengan tempo lambat)
“Bukankah hidup ini adalah pilihan?” (baca lebih lambat)
“Bukankah hidup ini adalah pilihan?” (baca lebih lambat lagi)
“Bukankah hidup ini adalah pilihan?”





7. SETIA PADA HAL KECIL
Bukan tindakan besar dan hebat,
yang menentukan hidup kita,
melainkan kesetiaan dalam menekuni
pekerjaan-pekerjaan kecil dan tidak berarti …. (bunda Teresa)
Perenungan Diri:
Bacalah pesan di atas berulang-ulang sampai meresap.
Bisa dengan cara pelan, sangat pelan, bahkan sangat, sangat pelan.
Boleh juga baca dalam hati dengan perasaan mantap.
Atau, diulang-ulang dalam hati untuk bagian tertentu.
“kesetiaan menekuni pekerjaan-pekerjaan kecil”
“kesetiaan menekuni pekerjaan yang tidak berarti”
Ya, memang mudah untuk dibaca, namun perlu kebesaran hati untuk mencerna.
Dan, tekad besar untuk menelannya.
Agar jadi bagian indah dalam gelora darah kita.
Karena sang musuh adalah di ego diri.
Tapi, mungkin!

8. IMPIAN PERLU UJIAN
(Baca gaya retorik Bung Karno)
kala impian membuat kita berbeda
kala cara pikir kita ditertawakan
kala senyuman kita disiniskan
kala warna semangat mulai meluntur
kala impian membuat hati bias

justru teruslah maju dan berpegang
teruslah berpegang pada impian kita
bangunlah keyakinan demi keyakinan

bukankah layang-layang terbang tinggi
karena melawan arah angin


(tarik nafas dalam dan tahan, lalu lanjutkan baca dengan keyakinan)
impian kita hanya perlu diuji
diuji untuk membangun keyakinan
(baca berikut ini sambil hembuskan nafas panjang)
keyakinan untuk mencapainya

9. TUM SPIRO, SPERO
“Tum Spiro, Spero” artinya:
“Selama Kita Bernafas, Kita Berusaha”
Buanglah kata menyerah dalam hidup ini.
Hidup ini sangat berarti, berkaryalah.
Karena kita adalah manusia, makhluk luar biasa.
Teruslah berjuang sampai nafas yang terakhir.

Sediakan waktu untuk sendiri. Untuk Diam. Untuk Meditasi. Untuk Merenung. Untuk ssst… diaaam, agar hikmah terdengar bunyinya.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Eagle Belt Buckles